queensmyst

Sepuluh tahun berlalu usai pesta kelulusan yang mengharu biru. Sepanjang tahun itu pula Wina meninggalkan kota dan mencoba menemukan dirinya sendiri. Dia kini seorang 28 tahun yang telah menulis banyak script film terkenal. Dengan pencapaian ini, seharusnya tidak ada lagi Wina remaja yang terus merasa tidak pantas mendapatkan cinta dari seseorang? Tapi nyatanya, Wina masih memilih jalan sepi.

Ini tahun pertamanya memutuskan pulang untuk mengikuti reuni. Mungkin jika berpikir Wina lari dari rasa patah hatinya, ada benarnya juga. Dia kira, masa penyembuhan itu butuh tidak sampai satu tahun. Tapi nyatanya, dia terlunta-lunta. Cinta masa sekolah plus cinta pertama memang sangat melekat di ingatan dan gawat-gawat bisa membuatmu seret meneruskan perjalanan.

Wina berjalan tegak dengan setelan celana panjang, kaos putih dan blazer berwarna abu. Rambutnya tetap dipotong pendek, membuat wajahnya sama sekali seperti tidak menua. Dia berpapasan dengan teman-temannya yang menyalami sampai memeluknya hangat. Beberapa diantaranya memuji film yang ditulis naskahnya oleh teman semasa sekolahnya itu.

Meski begitu, Wina tetap memilih sudut ruang. Dia nyaman untuk luput dari perhatian. Dilihatnya dari kejauhan Ryu tampak semakin menawan di usianya yang matang. Vokalis itu masih tetap bernyanyi, kali ini tampak mesra sambil merangkul perempuan. Tapi itu bukan Karina. Bukan fakta baru, Wina tahu dari Ning kalo keduanya putus setelah tahun kedua sebagai mahasiswi.

“Kayanya ada yang curang nih, masa sepuluh tahun masih muda aja,” seloroh seorang perempuan mengagetkan Wina.

Gadis itu menoleh dan mendapati Karina tampak anggun berdiri sejajar dengannya. “Karina? Asli, makin cantik dan elegan banget sih.”

Karina memeluk Wina hangat, tapi justru membuat si penulis membeku sejenak. Jujur, betapa dia menghabiskan malam-malamnya merindukan pelukan hangat di sore itu.

Mereka berbincang banyak, tentang apa saja. Baru Wina ketahui kalo Karina kini memiliki bisnis sendiri, sebuah toko kue. Lagi, Karina sekarang agak menutup diri dan menjauh dari keramaian. Ketika ditanya mengapa, gadis populer di masanya itu hanya menjawab, “Ya orang kan berubah, Win. Kamu juga berubah, kan?”

“Oh iya Win, gimana? Berapa lama pada akhirnya kamu bisa ngelupain aku?” tanya Karina dengan nada sedikit menggoda.

Wina tertawa ditanya begitu. “Kalo yang tanya bukan kamu dan bukan sekarang, kayanya aku bisa jawab deh. Tapi karena kamu yang tanya, aku jadi ragu. Sebenarnya aku ternyata nggak bisa ngelupain kamu, atau aku jatuh cinta lagi sih?”

“Sekarang ngomongnya lancar banget?”

“Agak percaya diri dikit sekarang. Hehe.”

Karina tersenyum kilas. “Tapi kamu telat, Win.”

“Yah, keduluan lagi, ya?” Meski ada sedikit perasaan kecut, tapi dia tetap ceria membalasnya.

Yang ditanya justru menunduk, menatap lantai yang tampak dingin. Lalu dia menggeleng pelan sekali. “Aku nggak pantes sama kamu, Win. Aku udah nggak utuh lagi sebagai wanita. Dan kamu harus berhenti buat bilang aku yang paling cantik.”

Suasana mendadak berubah menjadi biru, Karina menahan air matanya. Sementara Wina yang masih dipenuhi kebingungan masih menunggu penjelasan sambil mengusap bahu perempuan itu.

“Aku nggak paham, tapi sekali aku ngomong gitu ya nggak pernah berubah.”

Karina menggeleng tidak setuju. “Payudaraku diangkat Win, dua tahun lalu,” katanya samar tapi Wina dapat mendengarnya dengan jelas.

Wina terkejut bukan main, dia langsung memeluk Karina. “Maafin aku, Rin. Maaf banget, aku nggak ada di samping kamu waktu kamu harus ngelewatin ini semua. Apapun yang terjadi sama kamu, bagiku, kamu selalu utuh dan kamu selalu perempuan yang paling cantik.”

Karina tidak bisa menahan haru lagi. Dia menangis sesenggukan dan membasahi bahu Wina dengan air matanya. “Kamu udah nggakpapa?”

“Setelah operasi pengangkatan itu, syukurnya aku udah pulih.”

Wina melepas pelukannya, lantas jemarinya menghapus sisa air mata di wajah Karina. Dia mengangkat dagu gadisnya untuk melihat ke matanya, gadis ini sekarang tampak lebih senang melihat lantai.

“Maafin aku, harusnya aku selalu ada buat kamu. Kaya yang pernah aku tulis di laguku. Tapi aku selalu egois dan mikirin perasaanku sendiri. Aku lari dan menghindar sampai nggak tau kamu harus ngelewatin kaya gini. Rin, kalo kamu masih berbaik hati, mungkin nggak, kamu kasih aku kesempatan?”

“Aku nggak pantas buat kamu. Liat, kamu bisa dapet banyak yang lebih dari aku-” Wina menyentuh bibir Karina supaya berhenti.

“Inget nggak, kamu bilang sendiri kalo cinta bukan soal pantas nggak pantas? Dia nggak menyoal siapa yang kurang dan siapa yang lebih. Sekalipun kamu harus melalui ini, percaya, ini nggak ngebuat kamu kurang suatu apapun. Justru aku yang sangat terhormat kalo diijinin bisa nemenin perempuan kuat kaya kamu. Dan kamu.. Masa sih mau nutup harapan lagi buat aku? Haha.”

Karina akhirnya bisa menarik ujung bibirnya. Keduanya berpandangan tanpa ada satu kata terucap. Semenit kemudian barulah perempuan itu mengangguk. Hanya satu aksi, tapi Wina senang bukan main. Dia tidak pernah menyangka, reuni bisa mengembalikan lagi perasaannya. Atau mungkin, menuntunnya keluar dari persembunyian?

“Aku sayang banget sama kamu, Rin.”

“Aku sayang banget sama kamu, Win.”

Langit sore ini dipenuhi awan-awan tebal yang bergerak pelan. Bentuknya bermacam-macam bagi tiap kepala, tergantung bagaimana dan sebagai apa orang memikirkannya. Wina mencoba memikirkan bentuk awan, tapi pikirannya tidak jauh-jauh dari Karina. Perempuan itu tersenyum, lirik lagu Dee Lestari berbunyi lirih di telinganya. Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmu.

Wina tidak sempat meneruskan lagunya, sebab Karina lebih dulu sampai sebelum musik di telinganya berakhir. Syukurlah, Karina baik-baik saja. Meski sempat gemetar, tapi Wina fasih menyapa perempuan yang mungkin sedang tersakiti karenanya.

“Darimana ya, kita harus ngomongin ini?” tanya Karina agak terdengar berat.

“Mungkin dari.. kenapa kita perlu ngomongin ini?”

Karina menoleh, melihat wajah pias di sampingnya. “Karena harus diomongin. Karena mestinya kamu tau kemana arah obrolan kita. Kamu nggak usah lah pura-pura nggak tau, kenapa ini semua mesti diomongin.”

“Bukan aku pura-pura nggak tau, tapi apa perlunya loh, Rin? Maksudnya, bisa selesai sampai di fakta perasaanku nggak berbalas aja? Aku percaya kok, aku nggak sendirian. Ada banyak orang suka kamu dan belum tentu kamu suka dia-”

“Ya aku suka sama kamu, Win!” sergahnya kesal karena Wina bertele-tele. Bahkan lebih dulu sebelum Wina mengatakan perasaannya.

Tampaknya kalimat pendek barusan bikin efek kejut bagi Wina. Dia mungkin sudah menduga, tapi tetap saja dia tidak siap.

“Aku baca sedikit catatan kamu. Nggak usah tanya, aku tau darimana. Kamu selalu ngerasa nggak pantas, kamu seolah-olah paling tersakiti. Tapi aku tanya, kamu pernah nggak mikirin aku? Kalo emang beneran sesuka itu, kenapa nggak ngasih tau aku faktanya? Liat, sekarang aja kamu nggak ngomong apa-apa?”

Benar kata Ning, Karina tampak brutal. Wina jadi gelagapan.

“Jadi gini, Rin. Kamu udah tau faktanya, iya, aku suka sama kamu. Mungkin udah di tahap sayang? Kamu selalu yang paling cantik meskipun udah punya orang lain, tapi itu nggak bakal berubah. Kamu boleh nyalahin aku, karena mungkin aku sejahat itu? Aku cuma mikir, aku lagi nggak dalam kondisi terbaikku tapi bisa-bisanya aku pengen kamu? Makanya aku nggak pernah maju dan abis-abisan dikalahin rasa takutku. Apalagi rasanya kamu makin keliatan sama Ryu. Aku mau ngebandingin diri sama pacar kamu aja nggak nyampe.”

“Jadi bisa ngomong lancar gini, setelah aku punya orang lain?”

Wina menarik sudut bibirnya tipis. “Karena kamu butuh penjelasan, makanya aku jelasin. Lagian, dari segi manapun aku nggak mikir kamu suka aku itu masuk akal? Maksudnya, kita bahkan nggak pernah ngobrol?”

“Kamu tuh kelihatan banget suka sama aku dari kita kelas sepuluh. Inget nggak, waktu hujan terus kamu pinjemin payung? Katanya kamu punya dua, tapi malah kamu hujan-hujanan dan keluar dari gerbang belakang? Dikira aku nggak tau? Terus waktu aku kehabisan bakso di kantin pas sore-sore, kamu yang udah pesen kasih baksonya ke aku. Kamu bilangnya salah pesen atau nggak suka bakso. Tapi aku liatin makan siangmu sering-seringnya mesen bakso?”

Kini giliran Wina dibungkam, dia tidak sadar kalo Karina mengingat detail-detail yang mungkin sangat remeh.

“Aku mau kenal sama kamu, makanya aku selalu ngundang kamu ke ulang tahunku. Tapi kamu baru mau datang waktu terakhir kemarin itu. Terus aku bisa dapetin kontak kamu mesti nungguin hampir tiga tahun. Dan kamu kira nungguin tuh enak? Aku udah nyoba usaha dulu, tapi kamu kaya takut-takut gitu. Terus aku sadar, kamu nggak suka jadi pusat perhatian. Ya tapi, emang salahku kalo aku terkenal?!” sergah Karina makin bersemangat.

“Ya tapi kamu nanggepin Ryujin, gimana aku nggak makin kecil..” balas Wina sangat lirih, seperti berbisik.

“Ryujin tuh asyik, anaknya seru. Gimana aku nggak nanggapin? Tapi soal hati, aku sempet tanya kamu kan? Aku berharap setidaknya kamu bilang kalo, ya pikirin dulu lah. Tapi kamu ngotot aku suka ke dia. Nggak jelas banget kamu tuh!”

Diserang habis-habisan, Wina menundukkan kepalanya. Rasanya bukan lagi menyesal, tapi berkali lipat perasaan bersalah. Dia bodoh, bodoh dan pengecut! Sekalipun dulu dia merasa tidak pantas bersama Karina, kini justru sampai puncaknya.

“Udah terjadi, Rin. Mau gimana lagi..” ucap Wina kemudian.

“Iya, udah terjadi. Mau gimanapun juga nggak bakal ngerubah apapun,” balasnya dengan diakhiri helaan nafas panjang.

“Tapi kamu gimana sama Ryujin sekarang? Dia nggak nyakitin kamu, kan?”

“Aku selalu seneng sama Ryu, meskipun mungkin belum sepenuhnya sayang sebagai pacar. Karena ya kamu tau lah.. Tenang aja, dia juga memperlakukan aku dengan baik kok. Ryu nggak nyakitin aku, kan kamu yang nyakitin aku. Haha..”

Karina dan Wina sama-sama tertawa, merutuki kebodohan berujung salah paham ini.

“Jadi, udah nih?” Wina mengangguk.

“Kamu masih sedih-sedih gitu nggak sih?” tanya Karina lagi.

“Ya menurut kamu aja?? Haha, tapi nggak papa. Kamu juga jangan sakit hati lagi, ya? Jangan ada yang ngeganjel lagi, ya?”

Karina menatap lepas ke depan. “Aku nggak janji, soalnya kita masih ketemu terus. Dan mungkin agak degdegan dikit ketemu kamu. Tapi aku bakal berusaha buat bahagia, buat jadi pacar terbaik dan sayang sama Ryu sepenuhnya.”

Ada sedikit retakan di hati Wina, apalagi untuk kalimat akhir Karina. Mungkin kalo fase bodoh ini bisa direvisi, sayang Ryu sepenuhnya bisa berubah juga jadi sayang Wina sepenuhnya.

“Tapi Win, kamu harus mulai sayang sama diri kamu sendiri. Nggak ada alasan kamu merasa kecil. Kamu tuh keren dengan cara kamu sendiri! Pas kamu kasih aku payung, bakso dan lain-lain itu keren banget loh di mataku. Jadi mulai sekarang, bisa ya, jangan terlalu ngerendahin diri kamu? Jujur, aku baca sedikit catatan kamu aja ikutan ngilu. Pengen peluk kamu.”

“Ya udah sekarang peluk dong.”

Karina memeluk perempuan di sampingnya. Yang minta dipeluk justru terkejut, tapi beberapa detik kemudian langsung beradaptasi. Dia merasakan perasaan nyaman dan tenang. Andai.. Cukup!

Sore ini akhirnya selesai juga, meski tanpa ada satu pun keadaan yang berubah. Karina dan Ryujin tetap menjadi pasangan paling menghebohkan. Wina tetap menyedihkan dengan tertatih sedang mencoba menerima dirinya.

Katanya sih cinta pertama sering tidak berhasil, Wina jadi tidak sabar untuk cinta berikutnya.

Mungkin bagi banyak orang, waktu berjalan cepat atau bahkan tergesa. Rasanya baru kemarin pasangan menghebohkan Ryujin dan Karina membuat linimasa panas, tapi tidak terasa sudah tiga bulan momen itu tertinggal. Meskipun footage kemesraan keduanya tidak pernah sepi mendapat respon iri dari publik yang menginginkan salah satunya.

Adalah Wina satu-satunya yang tidak merasakan kecepatan waktu. Dia mengira temponya sedikit melambat. Sebab katanya waktu akan menyembuhkan, tapi kapan sekiranya dia sembuh? Atau mungkin tiga bulan masih terlalu prematur untuk menyebut patah hati ini serius.

Beberapa kali Wina berpapasan dengan Karina, kadangkala, berkesempatan secara langsung melihatnya mesra bersama pacarnya. Menilik fakta Wina sekelas dengan Ryujin, lalu si vokalis tidak segan membawa pacarnya ke kelas pada jam istirahat, tentu mudah menemukan Wina sedang mematahkan hatinya. Makanya rutinitas Wina yang semula membaca di kelas, kini dialihkan sementara ke perpustakaan.

Hari ini, Karina mengunjungi kelas Ryujin lagi di jam istirahat. Pacarnya tidak bisa keluar karena harus menyalin tugas yang semalam lupa dikerjakan. Ketika berjalan menuju kelas IPS, tidak sengaja dia berpapasan dengan Wina. Perempuan pendiam yang sempat membuatnya salah paham itu tidak menyapa, berjalan lurus menuju perpustakaan.

“Win,” panggil Karina membuat si punya nama menghentikan langkahnya.

Dia menoleh. “Iya, kenapa, Rin?”

Karina diam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Di benaknya, dia masih berpikir perempuan itu menyukainya. Tapi dia tidak menemukan apapun selain Wina selalu dingin ketika bersamanya.

“Ryujin ada di kelas kok. Aku perpus dulu, ya,” kata Wina karena Karina tak kunjung bicara.

Langkahnya berpacu terburu senada dengan gemuruh di dadanya. Rasanya lama sekali tidak bertegur sapa, apalagi berbincang. Pesan Karina pun tidak lagi dibalasnya. Wina sedikit punya prinsip, dia tidak ingin berteman dengan orang yang dia suka, apalagi jika posisinya sudah punya pacar. Lebih baik jadi orang asing satu sama lain, setidaknya sampai lukanya mengering.

Kelas Ryujin tampak sepi, beberapa murid pergi ke kantin. Hanya sedikit yang tersisa, misalnya Ryujin dan tiga siswa lainnya yang sibuk dengan ponsel. Dari layar ponsel yang miring, sepertinya sih mabar. Melihat ada pacarnya, Ryujin langsung tersenyum sumringah. Dia menarik lengan Karina untuk duduk di kursi sebelahnya.

“Masih banyak nggak?” tanya Karina melihat buku tulis pacarnya.

“Tinggal dikit kok, satu soal lagi. Kamu udah makan?”

“Belum, tadi mau kantin tapi ramai. Aku lagi pengen ketemu kamu, makanya ke sini aja,” ucapnya sedikit manja lalu menggeser kursinya mepet Ryujin.

“Ini aku nitip jajan, nanti dimakan kamu aja. Aku udah kenyang tadi.”

Karina hanya mengangguk sembari menyandarkan kepalanya pada Ryujin. Meski geraknya sedikit susah, tapi dia tidak protes. Ya siapa yang mau protes?

“Ryu, Wina gimana sih anaknya kalo di kelas?”

Ryujin menghentikan kegiatan menulisnya sekilas. “Tiba-tiba banget?”

“Tadi aku papasan gitu, dia mau ke perpus. Kaya jarang-jarang aja ngeliat dia bareng lainnya. Terus kaya anaknya diem tertutup gitu? Agak penasaran dikit.”

“Iya anaknya emang agak pendiem sih kayanya. Tapi baik banget kok. Temen-temen juga suka sih sama dia, maksudnya, kadang ada kan anak pendiem yang agak-agak bikin kesel. Nah Wina ini baik, kadang kalo ada seru-seruan di kelas dia ikutan juga sih. Tapi ya harus dipancing dulu.”

Karina menyimak, entah kenapa dia merasa butuh informasi ini. “Kelihatan sih, tapi bukan berarti nggak punya temen?”

“Nggaklah. Temen deketnya si Ningning, tapi mereka emang udah dari kecil barengan sih. Dia tuh seru tau kalo diajak ngobrol berdua gitu, tapi kalo udah rame katanya pusing haha.. Oh iya, kamu tau nggak, lagu yang kemarin aku nyanyiin di pensi, itu dia loh yang bikin,” kata Ryujin santai. Tapi informasi ini agaknya tidak terdengar santai buat Karina, dia langsung menjauhkan badannya dari Ryujin.

“Bentar.. Itu bukan lagu bikinan kamu? Bikinan Wina? Kok bisa?”

“Lah iya, aku juga nggak pernah ngomong aku yang bikin kan? Jadi gini, aku emang udah mau nembak kamu tapi maunya pake lagu yang orisinil gitu loh. Terus aku chat si Wina, minta dibikinin lagu itu. Awalnya iseng karena lagu bikinan dia pas Senmus tuh paling bagus, menurutku. Aku bilang mau buat nembak Karina, lah kok dia mau bikin. Ya udah, jadi deh..”

Karina diam sejenak mencerna informasi baru ini. Agaknya dia merasa sedikit janggal. “Kamu.. ada demo lagunya, nggak?”

“Ada kok, kamu mau dengerin?” tanya Ryujin yang langsung dibalas anggukan oleh Karina.

“Haha, semangat banget. Nih cek di hp aku, kayanya ada di folder apa ya. Kamu cari sendiri deh, keywordnya to Karina.”

Karina langsung mengambil ponsel pacarnya lalu mencari sesuai arahan. Tidak perlu waktu lama, ketemu!

“Aku pindah ke hp aku aja, ya? Pengen dengerin nanti aja.”

“Boleh, terserah kamu aja sayang,” jawab Ryujin sambil mengacak rambut Karina dengan tangan kirinya. Sebab tangan kanannya masih digunakan menyalin tugas yang tinggal satu kalimat lagi.

Karina tersenyum, meski sedikit gemetar. Fakta baru ini.. Apakah akan mengubah semuanya?

#D-Day!

Hari ini akhirnya tiba. Wina tidak bisa menjauh dari keramaian dan rasanya memang tidak perlu. Persiapan pentas seni membuatnya cukup dekat dengan teman-teman angkatannya. Ada banyak waktu dihabiskan bersama, tolong beri selamat untuk Wina!

Murid-murid tingkat akhir mulai bergiliran menunjukkan bakat seninya. Mereka berusaha tampil paling maksimal untuk mendapat A di nilai kesenian. Ada yang membacakan puisi, membentuk kelompok drama musikal, menari tradisional dan modern, serta menyanyikan lagu. Ningning dengan suara jernihnya layak mendapat nilai A. Sementara Giselle, pacarnya, berhasil menjadi idola baru setelah membawakan lagu hiphop bersama siswa laki-laki lainnya.

Yang selalu cantik, Karina, menunjukkan kemampuan menarinya. Dan siapa yang tidak jatuh cinta? Wina tidak berhenti menaruh kekaguman. Karina selalu cantik, tapi kala dia menari seperti ini, kecantikan dan pesonanya berlapis-lapis. Berapa lapis?

“Semangat, Win. Habis ini, kamu.” Ningning menyemangati Wina yang sebentar lagi tampil membawa gitarnya.

Wina menaiki panggung dengan gugup. Tangannya basah oleh keringat, ada banyak pasang mata kini tertuju padanya. Tapi dia tidak boleh menghancurkan ini, Wina mulai menutup matanya sejenak. Pelan-pelan, dia membebaskan dirinya melalui petikan gitar. Sebuah lagu yang benar-benar dari hatinya.

Saat kupejamkan kedua mataku dan kubayangkan di sampingmu, Kurasakan selalu, hangatnya pelukmu. Itu. Dan kugenggam lembut kedua tanganmu, seakan takut kehilanganmu, Kuingin selalu, hatimu untukku..

Matanya terlalu mudah menemukan apa yang dicarinya: Karina. Dan gadis itu sedang menatapnya. Wina tidak goyah, dia tetap melantunkan lagu milik Andra & The Backbone ini sembari matanya mengunci pandang.

Tak ada yang bisa menggantikan dirimu. Tak ada yang bisa membuat diriku, jauh darimu.” Wina masih meneruskan lagunya. Dia merasa sedang bermimpi, bernyanyi untuk Karina dan gadis itu tersenyum. Jika saja dilihat dari dekat, mungkin pipi Karina merona karena lirik manis dan kelembutan suara Wina.

Wina akhirnya menyelesaikan lagunya. Penonton berebut tepuk tangan paling keras, nilai A sudah pasti didapatnya dan diantara kebahagiaan ini, ada Karina yang menatapnya bangga. Dan hanya karena mereka saling berbagi tatap lantas Karina tersenyum, rasanya Wina ingin hidup seribu tahun lagi.

Penampilan band selalu mendapat urutan pertama dan terakhir. Entah apa alasannya, tapi seperti sudah tradisi saja. Vokalis Ryujin bersama band-nya mendapat giliran terakhir untuk bermain. Momen ini seperti pas untuk melancarkan rencana Ryujin. Apalagi kalo bukan.... Isilah sendiri titik-titik berikut.

“Halo, semua! Hari ini kita udah seru-seruan bareng. Tapi tunggu, jangan pada bubar dulu.”

Penonton bersorak, “Siapa yang bakal bubar kalo ada Ryujin?”

Si vokalis lagi-lagi tersenyum dan membuat siswi menggila. Masih menjadi misteri, kenapa pesona anak band ini agak-agak tidak terkendali.

“Satu lagu teristimewa buat seseorang yang bikin pencarianku berakhir. Kalo kalian tau, ya dia orangnya.”

Penonton diam sejenak, lagu mulai dimainkan. Suara Ryujin melebur pada bait demi bait. Dia secara jelas bernyanyi untuk seseorang, matanya tidak bisa lepas. Dan penonton sudah lebih dari mengerti.

Wina memasuki kelas yang kosong sendirian. Dia membenamkan kepalanya yang terasa berat ke meja kayu. Tidak, dia tidak boleh menangis sekarang. Tapi.. Dia terlalu cengeng untuk tidak menangis. Dadanya terasa sesak mendengar lagu yang ditulisnya dengan derai air mata. Lagu yang menceritakan kekaguman tiada akhir pada perempuan yang tidak lain Karina.

Di penghujung lagu, Ryujin tidak buru-buru menyelesaikan bait akhirnya. Dia memberi isyarat untuk personil band lain memelankan musiknya, lalu dia berhenti bernyanyi.

“Karina, lo tau kan. Gue nggak terlalu pinter ngomong, tapi lagu ini kayanya udah jelasin semua. Iya, gue suka, sayang, cinta banget sama lo. Rasanya, setelah ketemu lo, gue udah nggak mau cari lainnya lagi. Lo boleh percaya atau nggak. Oh iya, gue tau, bakal malu banget kalo ditolak dan kayanya gue bakal dihukum deh abis ini. Tapi Rin, lo mesti jujur buat jawab ini. Lo.. mau nggak, jadi pacar gue?”

Mustahil ini tidak didengar Wina, meskipun dia kini mengasingkan diri. Belum lagi riuh penonton yang siap menyambut pasangan paling populer di sekolah ini. Guru-guru tampak geleng-geleng kepala melihat kelakuan muridnya, tapi enggan merusak acara. Kini semua mata tertuju pada Karina, menunggu ada satu balas yang membuat orang semakin bersorak.

Hening sejenak sebelum Karina akhirnya... mengangguk.

“YEY!!” Penonton berseru ikutan senang.

“Rin, I love you.” Ryujin bersiap menyambung lagi bait akhirnya.

Apa kabar Wina? Jangankan seribu tahun lagi, dia hanya ingin bisa bernafas tanpa sesak besok harinya.

hai, karina! satu fakta baru yang kutahu, ada yang lebih sakit daripada mendapati cintaku tak berbalas. hari ini, aku baru menyadari, melihatmu bersama lainnya ternyata pedihnya melebihi apapun. lagu yang kamu dengar, itu aku. aku menyiapkan hati sedemikian rupa, tapi ternyata aku tidak pernah siap.

aku tau, aku hanya pengecut yang kalah bahkan sebelum melakukan apa-apa. kata ningning, aku harus memperjuangkan cinta yang kupunya. jadi, rasa suka dan cinta ini apa? kenapa mesti diperjuangkan? apa “dia” semacam penderitaan yang kupilih sendiri? lalu siapa yang harus kukalahkan, pertahananmu atau ketakutanku?

aku pernah mencintaimu tanpa keserakahan. melihatmu selama nyaris tiga tahun, rasanya cukup bagiku. ketika kita berpapasan, aku hanya sanggup menyapa, “hai”, “rambutmu bagus”, dan menyepakati setiap ucapanmu. dulu, aku berbahagia hanya dengan melihatmu yang semakin cantik tiap harinya, mendengar tawa renyahmu bersama teman-teman serta memastikan kamu menghabiskan makan siangmu. andaikata, aku tidak mengirim pesan di hari itu. aku tidak menghancurkan diriku dan berkutat dengan kata 'perjuangan' yang bagiku saja tampak menyeramkan.

kadangkala, aku ingin melangkah maju dan bergabung dengannya untuk memperjuangkan apa yang disebut cinta. tapi aku hanya enggan membuat hari-harimu kurang menyenangkan karena memikirkan perasaanku sendiri. berjuang sama saja menjanjikan kehidupan yang baik, sayangnya aku tidak pernah percaya diri. bagaimana kalo kamu justru lebih menderita setelah bersamaku? dan aku merusak apa yang disebut cinta hanya karena ingin memilikimu, menginginkan bersamamu.

haha, ayo sebut aku rumit, bodoh dan apa saja yang kamu mau. telingaku terbuka untuk semua hujatan dan ketidaksetujuan. tidak ada lagi yang bisa menyakitiku, selain daripada sakit yang kupilih sendiri: menginginkanmu.

andai saja, aku melihat semua ini sesederhana dia menerjemahkan perasaan yang dia punya. dia menyukaimu, dia menginginkanmu, dia membuatmu melihat kesungguhannya, dia mendapatkanmu, dia berbahagia dan akan membahagiakanmu, titik habis. ah, aku menghela nafasku merutuki ini semua. alih-alih sesederhana itu, aku justru menulis ini hanya untuk membuatku menjadi 'pecundang' yang sedikit lebih baik karena punya alasan. dan ini membuatku semakin tidak pantas bersama kamu. tidak seharusnya, kamu bersama orang yang suka menyusahkan dirinya sendiri. bagaimana kelak akan membuatmu bahagia, kan?

ngomong-ngomong, selamat ya, karina! kalian pasti menjadi pasangan populer dan linimasa akan menguras energiku :D cukup menyenangkan melihatmu menikmati lagu yang kutulis. ketika menulisnya, kamu boleh membayangkan orang itu aku atau siapapun yang kamu mau. aku tidak keberatan, tidak lagi keberatan. kamu berhak mendapat kebahagiaan di dunia ini. dan kamu tetap cantik, meskipun di pelukan orang lain. dan aku, mencintaimu..

yang harus membeli tissue, wina

aku tidak terlalu bisa menulis, tapi aku ingin terus menulis apapun tentang kamu. aku hanya ingin pada suatu hari diingatkan, betapa hari-hariku pernah penuh karenamu.

aku terlalu sering berpikir tentang kamu, termasuk pada pemikiran pernahkah kamu memikirkanku? di titik ini aku sampai berpikir, gimana ya cara memasukkanku dalam rutinitas berpikirmu? ya kalo terlalu muluk, selintas saja paling tidak? kalo masih muluk ya memang gitu kenyataannya ya :D

jangan dikira aku tidak berusaha supaya lupa, aku sering menyibukkan diriku dengan berbagai rupa. meskipun aku tidak terobsesi dengan produktivitas, tapi aku banyak menyelesaikan buku supaya pikiranku sejenak saja bisa terbebas darimu. aku sedikit geli menulis ini, selain daripada memang semua perasaan yang kurasakan sangat menggelikan untuk dibicarakan dengan siapapun. ya bagaimana tidak menggelikan, segala tentangmu hanya ada dalam duniaku. dan ini mungkin sulit dipahami bagi beberapa orang.

kemarin, aku cukup berbahagia mendapat pujian darimu. katamu, aku lucu dan seperti bayi? kamu tidak tau ya, ini salah satu alasan aku tidak mencintai diriku sendiri? aku ingin tumbuh keren seperti usiaku, bukan terjebak dengan baby face seperti ini.

aku tidak ingin menjadi anak-anak yang meskipun jika andaikata kita bersama, aku bisa menjadi anak yang patuh untukmu. jika saat itu tiba, aku bisa menjadi apapun yang kamu mau. tapi sayangnya, kita tidak sedang hidup dalam perandaian. jadi semestinya, aku meniadakan paragraf ini, ya.

orang yang menyukaimu sekaligus memujimu seksi, mengirimiku pesan. dia memintaku menulis lagu cinta untukmu yang nantinya akan dinyanyikannya. meski ini ide gila, tapi cukup menarik. betapa aku harus menghabiskan tissue untuk menulis apa yang kurasakan tentang kamu.

jika kamu mendengar lagunya nanti, aku tidak tau siapa yang akan kamu ingat. barangkali tidak ada kemungkinan kamu mengetahui dan mengingatku, sebagaimana lagu itu dinyanyikan untukmu oleh orang keren yang mencintaimu dan menginginkanmu dengan lantang. dan aku masih dengan senyap, meskipun segala tentang kamu tidak juga pernah terlelap.

yang mencintaimu belum ada habisnya, wina.

Masih menyoal masalah terakhir di ruang obrolan Wina dan Karina, kini Wina sedang kalang kabut memohon maaf dari yang bersangkutan. Masalahnya adalah Wina harus meminta maaf secara langsung, sementara lidahnya keburu kelu kalo berhadapan dengan Karina. Ningning menduga, karena setiap ada Karina ada banyak mata menaruh perhatian padanya. Itulah kenapa, Ningning berbaik hati menyarankan Wina mencari tempat yang tepat.

Akhirnya, Wina diam-diam mengikuti langkah Karina yang berjalan menuju toilet di sebelah lapangan basket. Perempuan tinggi ini tengah mencuci tangannya di wastafel sembari menatap bayangan wajah cantiknya dalam cermin. Sebelum akhirnya ada bayangan lain yang sedikit pucat dan takut-takut membersamainya. Keningnya berkerut.

“Wina?”

Kini si perempuan dengan rasa bersalah itu menarik ujung bibirnya, tersenyum. “Halo, Karina..”

“Kenapa?” tanya Karina cuek.

Tangannya mematikan aliran air, tapi ia belum ingin beranjak pergi. Kini ia malah bersandar pada wastafel sambil menatap intens gadis yang lebih pendek darinya itu.

Astaga, rasanya Wina mau mati di tempat kalo begini ceritanya.

“Hm, itu.. Maaf ya, soal chatku kemaren. Yang nggak sopan, nggak enak banget dibaca. Aku cuma, cuma ini.. Apa ya. Cuma kaget aja, kenapa kamu percaya buat cerita ke aku,” katanya acak-acakan.

Karina diam sejenak, masih memasang wajah dinginnya. Lalu menit berikutnya secara tak terduga justru tersenyum lebar. “Kok kamu lucu banget?”

Mampus.

Wina tetap harus bertahan meski diserang begini. “Haha, masa sih?”

Tap tap. Karina maju dua langkah, memangkas jarak antara dirinya dan Wina yang gugup. Dia mendekatkan wajahnya, membuat Wina menahan nafas dan meneguk ludahnya kasar.

“Dari deket, kamu kelihatan bayi banget. Aku penasaran baunya, tapi nggak kecium minyak telon,” tembaknya asal. Lantas dengan santai tangannya mencubit pelan pipi Wina yang sedikit chubby.

“Aku.. aku udah dewasa, tau,” timpal Wina tidak terima tapi justru terlihat makin menggemaskan. Karina tidak bisa menahan tawanya.

“Jadi, dimaafin kan ini?”

“Dengan syarat..”

“Apa?” balas Wina tak sabaran.

Belum juga Karina membalas, tiba-tiba ada tiga siswi lainnya memasuki toilet. Satu diantaranya seseorang yang tengah dekat dengannya, Ryujin. Melihat Karina berada di sana, si anak band ini terlihat sangat sumringah.

“Ih, kayanya kita ketemu dimana-mana deh?”

“Dih, lo ngikutin gue kali?”

“Mana ada. Lo kali. Tadi gue makan bakso di kantin aja ketemu lo yang celingukan cari meja.”

“Ya kebetulan emang gue laper, tapi istirahatnya telat gegara Bu Yoona. Makanya lo duluan yang di kantin, bego.”

Wina melihat obrolan di depannya dengan sedikit pedih. Karina terlihat nyaman bersama Ryujin. Dia mungkin lupa, menit sebelumnya tengah membuat Wina menunggu syarat untuk mendapatkan maaf.

“Bego-bego gini calon pacar lo, nggak sih?” goda Ryujin.

“Tergantung usaha lo,” balasnya singkat.

Ryujin mendekat ke arah Karina, mengabaikan Wina yang sudah mundur beberapa langkah sambil sibuk mencuci wajah dan menguping.

“Mau ngapain lo?” tanya Karina sedikit panik. Pasalnya, Ryujin melangkah dengan tatapan tajam yang agak sulit diartikan.

Bibirnya mendekat ke telinga Karina, “Lo jual mahal gini, kelihatan seksi banget, Rin.”

Meski lirih, tapi Wina mampu mendengarnya. Sementara Ryujin dengan santainya berlalu masuk bilik kamar mandi, Karina tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipi. Ujung mata Wina mengintip satu kemungkinan: ketidakmungkinan.

Tidak perlu menunggu lama, Ningning yang jarak rumahnya hanya sepuluh langkah telah berada di rumah Wina. Sesuai pesan yang bersangkutan, Ningning langsung menghambur masuk ke kamar Wina. Dilihatnya anak itu berurai air mata.

“Astaga, Win..” Ningning memeluk Wina hangat. Kini keduanya terlihat dramatis, tanpa mengesampingkan kesedihan Wina.

“Ning, capek banget. Harusnya orang kaya aku nggak usah jatuh cinta aja kali, ya? Ngerepotin aja.”

“Namanya juga jatuh cinta, Win. Emang boleh milih-milih? Jadi, gimana ceritanya?”

Wina mengambil buku harian bersampul cokelat miliknya. “Baca aja, Ning. Mau diceritain juga capek.”

“Capek mulu,” rutuk Ningning tapi tetap membaca buku harian tersebut.


memasuki hari-hari aku seharusnya lupa, tapi tak kunjung sampai. kini aku percaya perasaan begitu sinting dan jahat. kalo orang melirik sinis “cinta pandangan pertama”, apalagi ini... please deh, harus berapa kali aku bilang kalo kamu tidak melakukan apapun tapi kok ya aku terjerat? ya selain karena alasan kamu begitu cantik dan aku tidak bisa mengatakan ini meski tiga tahun lamanya.

di hari-hari sedikit cerah, seperti kala akhirnya aku mendapatkan kontakmu lalu melihat respon bagusmu, aku sedikit menanam harapan. lantas kamu mengajakku menonton bersama, membuatku memupuknya dengan kepercayaan diri. tapi sepertinya mesti segera layu karena alasanmu tidak lain dan tidak bukan menjadikanku sebagai alternatif. tapi hey, apa yang aku harapkan? kita bahkan tidak pernah mengobrol, tapi aku memikirkan ketidakmungkinan ‘disukai’ kamu lebih dulu?

setelah menonton yang rasanya ganjil, kita masih berkirim pesan satu dua kali. rasanya masih sama berdegupnya kala notifikasi merujuk pada namamu. tapi hatiku terus menciut, sebab dalam pikiranku, kamu membalasku dengan enggan. aku yang payah dalam mengobrol membuatmu malas-malas menanggapi dan berharap tidak mendapat pesan berikutnya. setidaknya itu yang menghuni kepalaku.

aku juga heran pada diri sendiri. meskipun aku tidak begitu seru dan jarang mengobrol, tapi aku tidak se-freak atau secanggung itu. track recordku membangun obrolan cukup bagus. tapi kali ini kenapa?? rasanya aku harus mengetik – menghapus – mengetik – baru mengirim – lalu menyesal.

ada banyak hal membuatku cukup tidak ingin kamu minati. dan aku entah kenapa mempercayai kepercayaan yang membuatku semakin kecil. apalagi jika membandingkan diri dengan orang yang keren dan bisa memikat banyak orang sepertinya. lantas membuatmu menjadi yang teristimewa karena secara terang-terangan menginginkanmu. meskipun kita tidak pernah benar-benar tau, siapa yang paling menginginkan siapa.

karena hal-hal di atas, aku ingin mencintaimu dengan cara paling senyap. dan aku berhasil menjalaninya sebelum dua minggu paling tidak karuan dalam hidupku. aku terlanjur mengonsumsi harapan, aku membayangkan banyak ketidakmungkinan antara kamu dan aku, pun aku merasa kadangkala sikapmu membuatku kabur menerjemahkan perasaanku ternyata berbalas.

seharusnya ini tidak rumit, seharusnya ini tidak sedih, semestinya ini tidak terlalu dramatik. tapi entah kenapa membuat dadaku terasa sesak. dan aku ingin menghentikan tahun-tahun diamku, demi mengatakan kamu cantik.


Ningning menutup lembaran itu, lantas menghela nafasnya kasar. “Kamu takut apa sih, Win? Ditolak? Patah hati? Malu?”

“Semuanya kali, ya? Apa jangan-jangan aku cuma takut sama diriku sendiri? Iya, kayanya deh Ning,” balasnya dengan tatapan kosong.

“Emang naklukin diri sendiri tuh paling susah.” Ningning tampak berempati, membuat Wina sekilas tersenyum. Dia tidak pernah menceritakan ini karena takut masalahnya dipandang remeh, maupun dikecilkan. Makanya di akhir tulisannya dia menambahkan, “seharusnya, seharusnya dan semestinya.”

“Menurut kamu, aku harus gimana Ning?”

“Kalo kamu mau dengerin, kamu harus coba ngelawan semua pikiran negatif kamu. Lagian, kalo pun kamu malu dan patah hati, apa nggak lebih mending daripada menyesal karena nggak nyoba?”

“Iya sih, Ning. Mana kita tau ya, kalo kita nggak nyoba?”

Ningning hanya manggut-manggut temannya masih bisa mencerna nasihat ala kadarnya. “Tapi, Ning.” Yah, ada tapi-nya.

“TBL, TBL. Takut banget loh.”

Tak! Ujung spidol mendarat di kepala Wina, keluar juga kekesalan Ningning. “Kalo nggak, itung-itungan deh. Kalo kelihatan bagus, maju aja. Kalo kelihatan nggak oke, ya udah. Lagian dua minggu keliatannya kalian ada perkembangan?”

“Mana ada. Aku tuh kalo ngechat dia, nggak tau mau ngobrolin apa. Mau nanya kehidupan pribadi, takut dia nggak nyaman. Mau ngelucu, ya kamu tau lah, mendingan nggak usah. Malahan aku ngira Karina dah pacaran sama Ryujin karena sering rangkulan kalo jalan di sekolah.”

“Hadeh, kaya nggak tau si Ryujin aja lo. Biasa Ryujin sih gitu. Tapi ya jujur, emang keliatan Karina-nya juga ngerespon nggak sih?”

“TUH KAN,” imbuh Wina dengan bersemangat. Baru saja Ningning nyaris berhasil meyakinkannya, oalah Ningning ikutan meragu sendiri.

Jalanan mulai redup hanya diterangi cahaya bulan bersama lampu-lampu jalan yang menyala dengan malu-malu. Wina hanya diam sembari menatap kosong apapun yang dilaluinya. Dalam kepalanya, ada riuh yang berlatih untuk merangkai ucapan ‘selamat ulang tahun’ senormal mungkin.

Belum sampai di pesta, tapi tangan Wina sudah dulu berkeringat. Ningning tersenyum sambil meledek teman kecilnya itu, “Yailah Win, selo kenapa. Kaya mau presentasi tugas aja.”

Wina menghela nafas tidak setuju, “Ini lebih dari presentasi, Ning!”

Tidak berlebihan seharusnya, mengingat ini pesta ulang tahun pertama yang dihadirinya, sekaligus punya Karina! Mencatut nama Karina, berarti dapat diterjemahkan menjadi dua hal: (1) Wina akan bertemu banyak orang, karena si pemilik pesta yang populer pasti mengundang banyak orang; (2) Upaya melawan degupnya sendiri, jika berhadapan dengan perempuan yang ditaksirnya sedari kelas sepuluh.

Ningning yang enggan berdebat, menggapai lengan Wina untuk digandengnya supaya tak hilang arah. Sementara si bocah pemula, mengikut saja tarikan pelan satu-satunya sahabatnya itu. Tampak luar memang tidak terlalu ada keramaian yang mencolok, selain daripada puluhan kendaraan parkir berjejer. Baru ketika membuka pintu, gemerlap pesta seolah berseru ‘selamat datang’ bagi siapa saja yang melangkah masuk. Berbeda dengan lampu jalanan yang menyala dengan malu, lampu-lampu ini seperti mengejek wajah gugup Wina. Tak ada celah untuk bersembunyi. Dia melangkah masuk dengan helaan nafas panjang sekali lagi, sungguh dia membenci cahaya.

“Liat dong ada siapa, Wina!” Bukan suara Karina, tapi Ryujin lebih dulu heboh merangkul teman sekelasnya yang jarang keluar itu. Wina hanya tersenyum canggung menjadi pusat perhatian seperti ini.

Si pemilik pesta tersenyum melihat tamu istimewanya. Kata istimewa di sini bisa dimaknai berbagai hal, kamu boleh saja memikirkan apapun kemungkinan istimewa bagi Karina.

“Hai, Win. Seneng banget deh, akhirnya kamu ke ulang tahun aku,” kata Karina sambil mengusap lengan Wina.

Satu detik, dua detik.. Karina masih tersenyum sembari menunggu mulut Wina terbuka. Dan tiga detik! Wina hanya membalas dengan sebuah anggukan disertai senyum tipis. Sial, kenapa lidahku kelu, rutuknya keras-keras dalam hati saja.

Karina sedikit menghibur hatinya, mungkin saja Wina malu karena banyak mata melihat mereka. Alhasil, dia menjadi gugup untuk membalas hangat binar bahagia Karina.

“Ya udah Win, nikmatin pestanya, ya. Itu kayanya enak tuh.” Karina bersikap ramah sembari menunjukkan makanan-makanan yang mungkin membuat si pemula pesta ini sedikit rileks. Sekali lagi, Wina hanya tersenyum tipis. Sementara kepalanya ingin meledak karena puluhan kata tak bisa dikeluarkan.

Ketika Karina pergi meninggalkannya, perhatian orang-orang mulai berangsur menghilang. Wina yang memisahkan diri dari Ningning mulai mencari spot paling tidak menarik, pilihannya jatuh pada meja di sudut yang terlihat agak remang. Dari sini, Wina hanya memakan cemilan sambil mengamati binar kebahagiaan di wajah Karina. Karina, kamu selalu yang paling cantik. Sayangnya, tetap hanya dalam senyap.

Wina membuka aplikasi kamera di ponselnya, mengabadikan rinai tawa Karina dalam rekaman video yang mungkin akan ditontonnya berulang kali. Diam-diam, ada seutas harap untuk jadi alasan gadis tercantik itu tertawa, pada suatu hari nanti. Dia ingin segera menepis segala harap, tapi sayangnya harapan seperti pemakan segala, tidak kenal kondisi dan tidak mau bernegosiasi.

Keramaian pesta belum sampai puncaknya, meskipun Ryujin naik ke panggung bersama tiga anak band-nya dan membuat siswi perempuan dimabuk pesonanya. Wina tersenyum, saingannya terlihat keren dengan membawakan Creep milik Radiohead. Lagu yang lebih tepat untuk dinyanyikannya. Atau Ryujin memainkan lagu itu untuk mengejeknya? Entahlah. Intinya sejak memakai frasa ‘saingan’, Wina langsung mengaku kalah.

Tidak perlu waktu lama, mata Wina langsung menemukan apa yang dicarinya, Karina. Dari kejauhan, dia bisa memastikan pemilik pesta sedang berbagi tatap dengan si vokalis. Kali ini tidak lagi tersenyum, tapi tanpa tanggung-tanggung Wina tertawa lirih. Kadangkala lucu dan sendu memang hanya berbeda tipis ya, Win?