Epilog
Sepuluh tahun berlalu usai pesta kelulusan yang mengharu biru. Sepanjang tahun itu pula Wina meninggalkan kota dan mencoba menemukan dirinya sendiri. Dia kini seorang 28 tahun yang telah menulis banyak script film terkenal. Dengan pencapaian ini, seharusnya tidak ada lagi Wina remaja yang terus merasa tidak pantas mendapatkan cinta dari seseorang? Tapi nyatanya, Wina masih memilih jalan sepi.
Ini tahun pertamanya memutuskan pulang untuk mengikuti reuni. Mungkin jika berpikir Wina lari dari rasa patah hatinya, ada benarnya juga. Dia kira, masa penyembuhan itu butuh tidak sampai satu tahun. Tapi nyatanya, dia terlunta-lunta. Cinta masa sekolah plus cinta pertama memang sangat melekat di ingatan dan gawat-gawat bisa membuatmu seret meneruskan perjalanan.
—
Wina berjalan tegak dengan setelan celana panjang, kaos putih dan blazer berwarna abu. Rambutnya tetap dipotong pendek, membuat wajahnya sama sekali seperti tidak menua. Dia berpapasan dengan teman-temannya yang menyalami sampai memeluknya hangat. Beberapa diantaranya memuji film yang ditulis naskahnya oleh teman semasa sekolahnya itu.
Meski begitu, Wina tetap memilih sudut ruang. Dia nyaman untuk luput dari perhatian. Dilihatnya dari kejauhan Ryu tampak semakin menawan di usianya yang matang. Vokalis itu masih tetap bernyanyi, kali ini tampak mesra sambil merangkul perempuan. Tapi itu bukan Karina. Bukan fakta baru, Wina tahu dari Ning kalo keduanya putus setelah tahun kedua sebagai mahasiswi.
“Kayanya ada yang curang nih, masa sepuluh tahun masih muda aja,” seloroh seorang perempuan mengagetkan Wina.
Gadis itu menoleh dan mendapati Karina tampak anggun berdiri sejajar dengannya. “Karina? Asli, makin cantik dan elegan banget sih.”
Karina memeluk Wina hangat, tapi justru membuat si penulis membeku sejenak. Jujur, betapa dia menghabiskan malam-malamnya merindukan pelukan hangat di sore itu.
Mereka berbincang banyak, tentang apa saja. Baru Wina ketahui kalo Karina kini memiliki bisnis sendiri, sebuah toko kue. Lagi, Karina sekarang agak menutup diri dan menjauh dari keramaian. Ketika ditanya mengapa, gadis populer di masanya itu hanya menjawab, “Ya orang kan berubah, Win. Kamu juga berubah, kan?”
“Oh iya Win, gimana? Berapa lama pada akhirnya kamu bisa ngelupain aku?” tanya Karina dengan nada sedikit menggoda.
Wina tertawa ditanya begitu. “Kalo yang tanya bukan kamu dan bukan sekarang, kayanya aku bisa jawab deh. Tapi karena kamu yang tanya, aku jadi ragu. Sebenarnya aku ternyata nggak bisa ngelupain kamu, atau aku jatuh cinta lagi sih?”
“Sekarang ngomongnya lancar banget?”
“Agak percaya diri dikit sekarang. Hehe.”
Karina tersenyum kilas. “Tapi kamu telat, Win.”
“Yah, keduluan lagi, ya?” Meski ada sedikit perasaan kecut, tapi dia tetap ceria membalasnya.
Yang ditanya justru menunduk, menatap lantai yang tampak dingin. Lalu dia menggeleng pelan sekali. “Aku nggak pantes sama kamu, Win. Aku udah nggak utuh lagi sebagai wanita. Dan kamu harus berhenti buat bilang aku yang paling cantik.”
Suasana mendadak berubah menjadi biru, Karina menahan air matanya. Sementara Wina yang masih dipenuhi kebingungan masih menunggu penjelasan sambil mengusap bahu perempuan itu.
“Aku nggak paham, tapi sekali aku ngomong gitu ya nggak pernah berubah.”
Karina menggeleng tidak setuju. “Payudaraku diangkat Win, dua tahun lalu,” katanya samar tapi Wina dapat mendengarnya dengan jelas.
Wina terkejut bukan main, dia langsung memeluk Karina. “Maafin aku, Rin. Maaf banget, aku nggak ada di samping kamu waktu kamu harus ngelewatin ini semua. Apapun yang terjadi sama kamu, bagiku, kamu selalu utuh dan kamu selalu perempuan yang paling cantik.”
Karina tidak bisa menahan haru lagi. Dia menangis sesenggukan dan membasahi bahu Wina dengan air matanya. “Kamu udah nggakpapa?”
“Setelah operasi pengangkatan itu, syukurnya aku udah pulih.”
Wina melepas pelukannya, lantas jemarinya menghapus sisa air mata di wajah Karina. Dia mengangkat dagu gadisnya untuk melihat ke matanya, gadis ini sekarang tampak lebih senang melihat lantai.
“Maafin aku, harusnya aku selalu ada buat kamu. Kaya yang pernah aku tulis di laguku. Tapi aku selalu egois dan mikirin perasaanku sendiri. Aku lari dan menghindar sampai nggak tau kamu harus ngelewatin kaya gini. Rin, kalo kamu masih berbaik hati, mungkin nggak, kamu kasih aku kesempatan?”
“Aku nggak pantas buat kamu. Liat, kamu bisa dapet banyak yang lebih dari aku-” Wina menyentuh bibir Karina supaya berhenti.
“Inget nggak, kamu bilang sendiri kalo cinta bukan soal pantas nggak pantas? Dia nggak menyoal siapa yang kurang dan siapa yang lebih. Sekalipun kamu harus melalui ini, percaya, ini nggak ngebuat kamu kurang suatu apapun. Justru aku yang sangat terhormat kalo diijinin bisa nemenin perempuan kuat kaya kamu. Dan kamu.. Masa sih mau nutup harapan lagi buat aku? Haha.”
Karina akhirnya bisa menarik ujung bibirnya. Keduanya berpandangan tanpa ada satu kata terucap. Semenit kemudian barulah perempuan itu mengangguk. Hanya satu aksi, tapi Wina senang bukan main. Dia tidak pernah menyangka, reuni bisa mengembalikan lagi perasaannya. Atau mungkin, menuntunnya keluar dari persembunyian?
“Aku sayang banget sama kamu, Rin.”
“Aku sayang banget sama kamu, Win.”
—