Karina, Maaf..

Masih menyoal masalah terakhir di ruang obrolan Wina dan Karina, kini Wina sedang kalang kabut memohon maaf dari yang bersangkutan. Masalahnya adalah Wina harus meminta maaf secara langsung, sementara lidahnya keburu kelu kalo berhadapan dengan Karina. Ningning menduga, karena setiap ada Karina ada banyak mata menaruh perhatian padanya. Itulah kenapa, Ningning berbaik hati menyarankan Wina mencari tempat yang tepat.

Akhirnya, Wina diam-diam mengikuti langkah Karina yang berjalan menuju toilet di sebelah lapangan basket. Perempuan tinggi ini tengah mencuci tangannya di wastafel sembari menatap bayangan wajah cantiknya dalam cermin. Sebelum akhirnya ada bayangan lain yang sedikit pucat dan takut-takut membersamainya. Keningnya berkerut.

“Wina?”

Kini si perempuan dengan rasa bersalah itu menarik ujung bibirnya, tersenyum. “Halo, Karina..”

“Kenapa?” tanya Karina cuek.

Tangannya mematikan aliran air, tapi ia belum ingin beranjak pergi. Kini ia malah bersandar pada wastafel sambil menatap intens gadis yang lebih pendek darinya itu.

Astaga, rasanya Wina mau mati di tempat kalo begini ceritanya.

“Hm, itu.. Maaf ya, soal chatku kemaren. Yang nggak sopan, nggak enak banget dibaca. Aku cuma, cuma ini.. Apa ya. Cuma kaget aja, kenapa kamu percaya buat cerita ke aku,” katanya acak-acakan.

Karina diam sejenak, masih memasang wajah dinginnya. Lalu menit berikutnya secara tak terduga justru tersenyum lebar. “Kok kamu lucu banget?”

Mampus.

Wina tetap harus bertahan meski diserang begini. “Haha, masa sih?”

Tap tap. Karina maju dua langkah, memangkas jarak antara dirinya dan Wina yang gugup. Dia mendekatkan wajahnya, membuat Wina menahan nafas dan meneguk ludahnya kasar.

“Dari deket, kamu kelihatan bayi banget. Aku penasaran baunya, tapi nggak kecium minyak telon,” tembaknya asal. Lantas dengan santai tangannya mencubit pelan pipi Wina yang sedikit chubby.

“Aku.. aku udah dewasa, tau,” timpal Wina tidak terima tapi justru terlihat makin menggemaskan. Karina tidak bisa menahan tawanya.

“Jadi, dimaafin kan ini?”

“Dengan syarat..”

“Apa?” balas Wina tak sabaran.

Belum juga Karina membalas, tiba-tiba ada tiga siswi lainnya memasuki toilet. Satu diantaranya seseorang yang tengah dekat dengannya, Ryujin. Melihat Karina berada di sana, si anak band ini terlihat sangat sumringah.

“Ih, kayanya kita ketemu dimana-mana deh?”

“Dih, lo ngikutin gue kali?”

“Mana ada. Lo kali. Tadi gue makan bakso di kantin aja ketemu lo yang celingukan cari meja.”

“Ya kebetulan emang gue laper, tapi istirahatnya telat gegara Bu Yoona. Makanya lo duluan yang di kantin, bego.”

Wina melihat obrolan di depannya dengan sedikit pedih. Karina terlihat nyaman bersama Ryujin. Dia mungkin lupa, menit sebelumnya tengah membuat Wina menunggu syarat untuk mendapatkan maaf.

“Bego-bego gini calon pacar lo, nggak sih?” goda Ryujin.

“Tergantung usaha lo,” balasnya singkat.

Ryujin mendekat ke arah Karina, mengabaikan Wina yang sudah mundur beberapa langkah sambil sibuk mencuci wajah dan menguping.

“Mau ngapain lo?” tanya Karina sedikit panik. Pasalnya, Ryujin melangkah dengan tatapan tajam yang agak sulit diartikan.

Bibirnya mendekat ke telinga Karina, “Lo jual mahal gini, kelihatan seksi banget, Rin.”

Meski lirih, tapi Wina mampu mendengarnya. Sementara Ryujin dengan santainya berlalu masuk bilik kamar mandi, Karina tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipi. Ujung mata Wina mengintip satu kemungkinan: ketidakmungkinan.