Fakta Baru

Mungkin bagi banyak orang, waktu berjalan cepat atau bahkan tergesa. Rasanya baru kemarin pasangan menghebohkan Ryujin dan Karina membuat linimasa panas, tapi tidak terasa sudah tiga bulan momen itu tertinggal. Meskipun footage kemesraan keduanya tidak pernah sepi mendapat respon iri dari publik yang menginginkan salah satunya.

Adalah Wina satu-satunya yang tidak merasakan kecepatan waktu. Dia mengira temponya sedikit melambat. Sebab katanya waktu akan menyembuhkan, tapi kapan sekiranya dia sembuh? Atau mungkin tiga bulan masih terlalu prematur untuk menyebut patah hati ini serius.

Beberapa kali Wina berpapasan dengan Karina, kadangkala, berkesempatan secara langsung melihatnya mesra bersama pacarnya. Menilik fakta Wina sekelas dengan Ryujin, lalu si vokalis tidak segan membawa pacarnya ke kelas pada jam istirahat, tentu mudah menemukan Wina sedang mematahkan hatinya. Makanya rutinitas Wina yang semula membaca di kelas, kini dialihkan sementara ke perpustakaan.

Hari ini, Karina mengunjungi kelas Ryujin lagi di jam istirahat. Pacarnya tidak bisa keluar karena harus menyalin tugas yang semalam lupa dikerjakan. Ketika berjalan menuju kelas IPS, tidak sengaja dia berpapasan dengan Wina. Perempuan pendiam yang sempat membuatnya salah paham itu tidak menyapa, berjalan lurus menuju perpustakaan.

“Win,” panggil Karina membuat si punya nama menghentikan langkahnya.

Dia menoleh. “Iya, kenapa, Rin?”

Karina diam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Di benaknya, dia masih berpikir perempuan itu menyukainya. Tapi dia tidak menemukan apapun selain Wina selalu dingin ketika bersamanya.

“Ryujin ada di kelas kok. Aku perpus dulu, ya,” kata Wina karena Karina tak kunjung bicara.

Langkahnya berpacu terburu senada dengan gemuruh di dadanya. Rasanya lama sekali tidak bertegur sapa, apalagi berbincang. Pesan Karina pun tidak lagi dibalasnya. Wina sedikit punya prinsip, dia tidak ingin berteman dengan orang yang dia suka, apalagi jika posisinya sudah punya pacar. Lebih baik jadi orang asing satu sama lain, setidaknya sampai lukanya mengering.

Kelas Ryujin tampak sepi, beberapa murid pergi ke kantin. Hanya sedikit yang tersisa, misalnya Ryujin dan tiga siswa lainnya yang sibuk dengan ponsel. Dari layar ponsel yang miring, sepertinya sih mabar. Melihat ada pacarnya, Ryujin langsung tersenyum sumringah. Dia menarik lengan Karina untuk duduk di kursi sebelahnya.

“Masih banyak nggak?” tanya Karina melihat buku tulis pacarnya.

“Tinggal dikit kok, satu soal lagi. Kamu udah makan?”

“Belum, tadi mau kantin tapi ramai. Aku lagi pengen ketemu kamu, makanya ke sini aja,” ucapnya sedikit manja lalu menggeser kursinya mepet Ryujin.

“Ini aku nitip jajan, nanti dimakan kamu aja. Aku udah kenyang tadi.”

Karina hanya mengangguk sembari menyandarkan kepalanya pada Ryujin. Meski geraknya sedikit susah, tapi dia tidak protes. Ya siapa yang mau protes?

“Ryu, Wina gimana sih anaknya kalo di kelas?”

Ryujin menghentikan kegiatan menulisnya sekilas. “Tiba-tiba banget?”

“Tadi aku papasan gitu, dia mau ke perpus. Kaya jarang-jarang aja ngeliat dia bareng lainnya. Terus kaya anaknya diem tertutup gitu? Agak penasaran dikit.”

“Iya anaknya emang agak pendiem sih kayanya. Tapi baik banget kok. Temen-temen juga suka sih sama dia, maksudnya, kadang ada kan anak pendiem yang agak-agak bikin kesel. Nah Wina ini baik, kadang kalo ada seru-seruan di kelas dia ikutan juga sih. Tapi ya harus dipancing dulu.”

Karina menyimak, entah kenapa dia merasa butuh informasi ini. “Kelihatan sih, tapi bukan berarti nggak punya temen?”

“Nggaklah. Temen deketnya si Ningning, tapi mereka emang udah dari kecil barengan sih. Dia tuh seru tau kalo diajak ngobrol berdua gitu, tapi kalo udah rame katanya pusing haha.. Oh iya, kamu tau nggak, lagu yang kemarin aku nyanyiin di pensi, itu dia loh yang bikin,” kata Ryujin santai. Tapi informasi ini agaknya tidak terdengar santai buat Karina, dia langsung menjauhkan badannya dari Ryujin.

“Bentar.. Itu bukan lagu bikinan kamu? Bikinan Wina? Kok bisa?”

“Lah iya, aku juga nggak pernah ngomong aku yang bikin kan? Jadi gini, aku emang udah mau nembak kamu tapi maunya pake lagu yang orisinil gitu loh. Terus aku chat si Wina, minta dibikinin lagu itu. Awalnya iseng karena lagu bikinan dia pas Senmus tuh paling bagus, menurutku. Aku bilang mau buat nembak Karina, lah kok dia mau bikin. Ya udah, jadi deh..”

Karina diam sejenak mencerna informasi baru ini. Agaknya dia merasa sedikit janggal. “Kamu.. ada demo lagunya, nggak?”

“Ada kok, kamu mau dengerin?” tanya Ryujin yang langsung dibalas anggukan oleh Karina.

“Haha, semangat banget. Nih cek di hp aku, kayanya ada di folder apa ya. Kamu cari sendiri deh, keywordnya to Karina.”

Karina langsung mengambil ponsel pacarnya lalu mencari sesuai arahan. Tidak perlu waktu lama, ketemu!

“Aku pindah ke hp aku aja, ya? Pengen dengerin nanti aja.”

“Boleh, terserah kamu aja sayang,” jawab Ryujin sambil mengacak rambut Karina dengan tangan kirinya. Sebab tangan kanannya masih digunakan menyalin tugas yang tinggal satu kalimat lagi.

Karina tersenyum, meski sedikit gemetar. Fakta baru ini.. Apakah akan mengubah semuanya?