Meramu Akhir

Langit sore ini dipenuhi awan-awan tebal yang bergerak pelan. Bentuknya bermacam-macam bagi tiap kepala, tergantung bagaimana dan sebagai apa orang memikirkannya. Wina mencoba memikirkan bentuk awan, tapi pikirannya tidak jauh-jauh dari Karina. Perempuan itu tersenyum, lirik lagu Dee Lestari berbunyi lirih di telinganya. Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmu.

Wina tidak sempat meneruskan lagunya, sebab Karina lebih dulu sampai sebelum musik di telinganya berakhir. Syukurlah, Karina baik-baik saja. Meski sempat gemetar, tapi Wina fasih menyapa perempuan yang mungkin sedang tersakiti karenanya.

“Darimana ya, kita harus ngomongin ini?” tanya Karina agak terdengar berat.

“Mungkin dari.. kenapa kita perlu ngomongin ini?”

Karina menoleh, melihat wajah pias di sampingnya. “Karena harus diomongin. Karena mestinya kamu tau kemana arah obrolan kita. Kamu nggak usah lah pura-pura nggak tau, kenapa ini semua mesti diomongin.”

“Bukan aku pura-pura nggak tau, tapi apa perlunya loh, Rin? Maksudnya, bisa selesai sampai di fakta perasaanku nggak berbalas aja? Aku percaya kok, aku nggak sendirian. Ada banyak orang suka kamu dan belum tentu kamu suka dia-”

“Ya aku suka sama kamu, Win!” sergahnya kesal karena Wina bertele-tele. Bahkan lebih dulu sebelum Wina mengatakan perasaannya.

Tampaknya kalimat pendek barusan bikin efek kejut bagi Wina. Dia mungkin sudah menduga, tapi tetap saja dia tidak siap.

“Aku baca sedikit catatan kamu. Nggak usah tanya, aku tau darimana. Kamu selalu ngerasa nggak pantas, kamu seolah-olah paling tersakiti. Tapi aku tanya, kamu pernah nggak mikirin aku? Kalo emang beneran sesuka itu, kenapa nggak ngasih tau aku faktanya? Liat, sekarang aja kamu nggak ngomong apa-apa?”

Benar kata Ning, Karina tampak brutal. Wina jadi gelagapan.

“Jadi gini, Rin. Kamu udah tau faktanya, iya, aku suka sama kamu. Mungkin udah di tahap sayang? Kamu selalu yang paling cantik meskipun udah punya orang lain, tapi itu nggak bakal berubah. Kamu boleh nyalahin aku, karena mungkin aku sejahat itu? Aku cuma mikir, aku lagi nggak dalam kondisi terbaikku tapi bisa-bisanya aku pengen kamu? Makanya aku nggak pernah maju dan abis-abisan dikalahin rasa takutku. Apalagi rasanya kamu makin keliatan sama Ryu. Aku mau ngebandingin diri sama pacar kamu aja nggak nyampe.”

“Jadi bisa ngomong lancar gini, setelah aku punya orang lain?”

Wina menarik sudut bibirnya tipis. “Karena kamu butuh penjelasan, makanya aku jelasin. Lagian, dari segi manapun aku nggak mikir kamu suka aku itu masuk akal? Maksudnya, kita bahkan nggak pernah ngobrol?”

“Kamu tuh kelihatan banget suka sama aku dari kita kelas sepuluh. Inget nggak, waktu hujan terus kamu pinjemin payung? Katanya kamu punya dua, tapi malah kamu hujan-hujanan dan keluar dari gerbang belakang? Dikira aku nggak tau? Terus waktu aku kehabisan bakso di kantin pas sore-sore, kamu yang udah pesen kasih baksonya ke aku. Kamu bilangnya salah pesen atau nggak suka bakso. Tapi aku liatin makan siangmu sering-seringnya mesen bakso?”

Kini giliran Wina dibungkam, dia tidak sadar kalo Karina mengingat detail-detail yang mungkin sangat remeh.

“Aku mau kenal sama kamu, makanya aku selalu ngundang kamu ke ulang tahunku. Tapi kamu baru mau datang waktu terakhir kemarin itu. Terus aku bisa dapetin kontak kamu mesti nungguin hampir tiga tahun. Dan kamu kira nungguin tuh enak? Aku udah nyoba usaha dulu, tapi kamu kaya takut-takut gitu. Terus aku sadar, kamu nggak suka jadi pusat perhatian. Ya tapi, emang salahku kalo aku terkenal?!” sergah Karina makin bersemangat.

“Ya tapi kamu nanggepin Ryujin, gimana aku nggak makin kecil..” balas Wina sangat lirih, seperti berbisik.

“Ryujin tuh asyik, anaknya seru. Gimana aku nggak nanggapin? Tapi soal hati, aku sempet tanya kamu kan? Aku berharap setidaknya kamu bilang kalo, ya pikirin dulu lah. Tapi kamu ngotot aku suka ke dia. Nggak jelas banget kamu tuh!”

Diserang habis-habisan, Wina menundukkan kepalanya. Rasanya bukan lagi menyesal, tapi berkali lipat perasaan bersalah. Dia bodoh, bodoh dan pengecut! Sekalipun dulu dia merasa tidak pantas bersama Karina, kini justru sampai puncaknya.

“Udah terjadi, Rin. Mau gimana lagi..” ucap Wina kemudian.

“Iya, udah terjadi. Mau gimanapun juga nggak bakal ngerubah apapun,” balasnya dengan diakhiri helaan nafas panjang.

“Tapi kamu gimana sama Ryujin sekarang? Dia nggak nyakitin kamu, kan?”

“Aku selalu seneng sama Ryu, meskipun mungkin belum sepenuhnya sayang sebagai pacar. Karena ya kamu tau lah.. Tenang aja, dia juga memperlakukan aku dengan baik kok. Ryu nggak nyakitin aku, kan kamu yang nyakitin aku. Haha..”

Karina dan Wina sama-sama tertawa, merutuki kebodohan berujung salah paham ini.

“Jadi, udah nih?” Wina mengangguk.

“Kamu masih sedih-sedih gitu nggak sih?” tanya Karina lagi.

“Ya menurut kamu aja?? Haha, tapi nggak papa. Kamu juga jangan sakit hati lagi, ya? Jangan ada yang ngeganjel lagi, ya?”

Karina menatap lepas ke depan. “Aku nggak janji, soalnya kita masih ketemu terus. Dan mungkin agak degdegan dikit ketemu kamu. Tapi aku bakal berusaha buat bahagia, buat jadi pacar terbaik dan sayang sama Ryu sepenuhnya.”

Ada sedikit retakan di hati Wina, apalagi untuk kalimat akhir Karina. Mungkin kalo fase bodoh ini bisa direvisi, sayang Ryu sepenuhnya bisa berubah juga jadi sayang Wina sepenuhnya.

“Tapi Win, kamu harus mulai sayang sama diri kamu sendiri. Nggak ada alasan kamu merasa kecil. Kamu tuh keren dengan cara kamu sendiri! Pas kamu kasih aku payung, bakso dan lain-lain itu keren banget loh di mataku. Jadi mulai sekarang, bisa ya, jangan terlalu ngerendahin diri kamu? Jujur, aku baca sedikit catatan kamu aja ikutan ngilu. Pengen peluk kamu.”

“Ya udah sekarang peluk dong.”

Karina memeluk perempuan di sampingnya. Yang minta dipeluk justru terkejut, tapi beberapa detik kemudian langsung beradaptasi. Dia merasakan perasaan nyaman dan tenang. Andai.. Cukup!

Sore ini akhirnya selesai juga, meski tanpa ada satu pun keadaan yang berubah. Karina dan Ryujin tetap menjadi pasangan paling menghebohkan. Wina tetap menyedihkan dengan tertatih sedang mencoba menerima dirinya.

Katanya sih cinta pertama sering tidak berhasil, Wina jadi tidak sabar untuk cinta berikutnya.