Berkunjung ke Pikiran Wina

Tidak perlu menunggu lama, Ningning yang jarak rumahnya hanya sepuluh langkah telah berada di rumah Wina. Sesuai pesan yang bersangkutan, Ningning langsung menghambur masuk ke kamar Wina. Dilihatnya anak itu berurai air mata.

“Astaga, Win..” Ningning memeluk Wina hangat. Kini keduanya terlihat dramatis, tanpa mengesampingkan kesedihan Wina.

“Ning, capek banget. Harusnya orang kaya aku nggak usah jatuh cinta aja kali, ya? Ngerepotin aja.”

“Namanya juga jatuh cinta, Win. Emang boleh milih-milih? Jadi, gimana ceritanya?”

Wina mengambil buku harian bersampul cokelat miliknya. “Baca aja, Ning. Mau diceritain juga capek.”

“Capek mulu,” rutuk Ningning tapi tetap membaca buku harian tersebut.


memasuki hari-hari aku seharusnya lupa, tapi tak kunjung sampai. kini aku percaya perasaan begitu sinting dan jahat. kalo orang melirik sinis “cinta pandangan pertama”, apalagi ini... please deh, harus berapa kali aku bilang kalo kamu tidak melakukan apapun tapi kok ya aku terjerat? ya selain karena alasan kamu begitu cantik dan aku tidak bisa mengatakan ini meski tiga tahun lamanya.

di hari-hari sedikit cerah, seperti kala akhirnya aku mendapatkan kontakmu lalu melihat respon bagusmu, aku sedikit menanam harapan. lantas kamu mengajakku menonton bersama, membuatku memupuknya dengan kepercayaan diri. tapi sepertinya mesti segera layu karena alasanmu tidak lain dan tidak bukan menjadikanku sebagai alternatif. tapi hey, apa yang aku harapkan? kita bahkan tidak pernah mengobrol, tapi aku memikirkan ketidakmungkinan ‘disukai’ kamu lebih dulu?

setelah menonton yang rasanya ganjil, kita masih berkirim pesan satu dua kali. rasanya masih sama berdegupnya kala notifikasi merujuk pada namamu. tapi hatiku terus menciut, sebab dalam pikiranku, kamu membalasku dengan enggan. aku yang payah dalam mengobrol membuatmu malas-malas menanggapi dan berharap tidak mendapat pesan berikutnya. setidaknya itu yang menghuni kepalaku.

aku juga heran pada diri sendiri. meskipun aku tidak begitu seru dan jarang mengobrol, tapi aku tidak se-freak atau secanggung itu. track recordku membangun obrolan cukup bagus. tapi kali ini kenapa?? rasanya aku harus mengetik – menghapus – mengetik – baru mengirim – lalu menyesal.

ada banyak hal membuatku cukup tidak ingin kamu minati. dan aku entah kenapa mempercayai kepercayaan yang membuatku semakin kecil. apalagi jika membandingkan diri dengan orang yang keren dan bisa memikat banyak orang sepertinya. lantas membuatmu menjadi yang teristimewa karena secara terang-terangan menginginkanmu. meskipun kita tidak pernah benar-benar tau, siapa yang paling menginginkan siapa.

karena hal-hal di atas, aku ingin mencintaimu dengan cara paling senyap. dan aku berhasil menjalaninya sebelum dua minggu paling tidak karuan dalam hidupku. aku terlanjur mengonsumsi harapan, aku membayangkan banyak ketidakmungkinan antara kamu dan aku, pun aku merasa kadangkala sikapmu membuatku kabur menerjemahkan perasaanku ternyata berbalas.

seharusnya ini tidak rumit, seharusnya ini tidak sedih, semestinya ini tidak terlalu dramatik. tapi entah kenapa membuat dadaku terasa sesak. dan aku ingin menghentikan tahun-tahun diamku, demi mengatakan kamu cantik.


Ningning menutup lembaran itu, lantas menghela nafasnya kasar. “Kamu takut apa sih, Win? Ditolak? Patah hati? Malu?”

“Semuanya kali, ya? Apa jangan-jangan aku cuma takut sama diriku sendiri? Iya, kayanya deh Ning,” balasnya dengan tatapan kosong.

“Emang naklukin diri sendiri tuh paling susah.” Ningning tampak berempati, membuat Wina sekilas tersenyum. Dia tidak pernah menceritakan ini karena takut masalahnya dipandang remeh, maupun dikecilkan. Makanya di akhir tulisannya dia menambahkan, “seharusnya, seharusnya dan semestinya.”

“Menurut kamu, aku harus gimana Ning?”

“Kalo kamu mau dengerin, kamu harus coba ngelawan semua pikiran negatif kamu. Lagian, kalo pun kamu malu dan patah hati, apa nggak lebih mending daripada menyesal karena nggak nyoba?”

“Iya sih, Ning. Mana kita tau ya, kalo kita nggak nyoba?”

Ningning hanya manggut-manggut temannya masih bisa mencerna nasihat ala kadarnya. “Tapi, Ning.” Yah, ada tapi-nya.

“TBL, TBL. Takut banget loh.”

Tak! Ujung spidol mendarat di kepala Wina, keluar juga kekesalan Ningning. “Kalo nggak, itung-itungan deh. Kalo kelihatan bagus, maju aja. Kalo kelihatan nggak oke, ya udah. Lagian dua minggu keliatannya kalian ada perkembangan?”

“Mana ada. Aku tuh kalo ngechat dia, nggak tau mau ngobrolin apa. Mau nanya kehidupan pribadi, takut dia nggak nyaman. Mau ngelucu, ya kamu tau lah, mendingan nggak usah. Malahan aku ngira Karina dah pacaran sama Ryujin karena sering rangkulan kalo jalan di sekolah.”

“Hadeh, kaya nggak tau si Ryujin aja lo. Biasa Ryujin sih gitu. Tapi ya jujur, emang keliatan Karina-nya juga ngerespon nggak sih?”

“TUH KAN,” imbuh Wina dengan bersemangat. Baru saja Ningning nyaris berhasil meyakinkannya, oalah Ningning ikutan meragu sendiri.