Birthday Party
Jalanan mulai redup hanya diterangi cahaya bulan bersama lampu-lampu jalan yang menyala dengan malu-malu. Wina hanya diam sembari menatap kosong apapun yang dilaluinya. Dalam kepalanya, ada riuh yang berlatih untuk merangkai ucapan ‘selamat ulang tahun’ senormal mungkin.
Belum sampai di pesta, tapi tangan Wina sudah dulu berkeringat. Ningning tersenyum sambil meledek teman kecilnya itu, “Yailah Win, selo kenapa. Kaya mau presentasi tugas aja.”
Wina menghela nafas tidak setuju, “Ini lebih dari presentasi, Ning!”
Tidak berlebihan seharusnya, mengingat ini pesta ulang tahun pertama yang dihadirinya, sekaligus punya Karina! Mencatut nama Karina, berarti dapat diterjemahkan menjadi dua hal: (1) Wina akan bertemu banyak orang, karena si pemilik pesta yang populer pasti mengundang banyak orang; (2) Upaya melawan degupnya sendiri, jika berhadapan dengan perempuan yang ditaksirnya sedari kelas sepuluh.
Ningning yang enggan berdebat, menggapai lengan Wina untuk digandengnya supaya tak hilang arah. Sementara si bocah pemula, mengikut saja tarikan pelan satu-satunya sahabatnya itu. Tampak luar memang tidak terlalu ada keramaian yang mencolok, selain daripada puluhan kendaraan parkir berjejer. Baru ketika membuka pintu, gemerlap pesta seolah berseru ‘selamat datang’ bagi siapa saja yang melangkah masuk. Berbeda dengan lampu jalanan yang menyala dengan malu, lampu-lampu ini seperti mengejek wajah gugup Wina. Tak ada celah untuk bersembunyi. Dia melangkah masuk dengan helaan nafas panjang sekali lagi, sungguh dia membenci cahaya.
“Liat dong ada siapa, Wina!” Bukan suara Karina, tapi Ryujin lebih dulu heboh merangkul teman sekelasnya yang jarang keluar itu. Wina hanya tersenyum canggung menjadi pusat perhatian seperti ini.
Si pemilik pesta tersenyum melihat tamu istimewanya. Kata istimewa di sini bisa dimaknai berbagai hal, kamu boleh saja memikirkan apapun kemungkinan istimewa bagi Karina.
“Hai, Win. Seneng banget deh, akhirnya kamu ke ulang tahun aku,” kata Karina sambil mengusap lengan Wina.
Satu detik, dua detik.. Karina masih tersenyum sembari menunggu mulut Wina terbuka. Dan tiga detik! Wina hanya membalas dengan sebuah anggukan disertai senyum tipis. Sial, kenapa lidahku kelu, rutuknya keras-keras dalam hati saja.
Karina sedikit menghibur hatinya, mungkin saja Wina malu karena banyak mata melihat mereka. Alhasil, dia menjadi gugup untuk membalas hangat binar bahagia Karina.
“Ya udah Win, nikmatin pestanya, ya. Itu kayanya enak tuh.” Karina bersikap ramah sembari menunjukkan makanan-makanan yang mungkin membuat si pemula pesta ini sedikit rileks. Sekali lagi, Wina hanya tersenyum tipis. Sementara kepalanya ingin meledak karena puluhan kata tak bisa dikeluarkan.
Ketika Karina pergi meninggalkannya, perhatian orang-orang mulai berangsur menghilang. Wina yang memisahkan diri dari Ningning mulai mencari spot paling tidak menarik, pilihannya jatuh pada meja di sudut yang terlihat agak remang. Dari sini, Wina hanya memakan cemilan sambil mengamati binar kebahagiaan di wajah Karina. Karina, kamu selalu yang paling cantik. Sayangnya, tetap hanya dalam senyap.
Wina membuka aplikasi kamera di ponselnya, mengabadikan rinai tawa Karina dalam rekaman video yang mungkin akan ditontonnya berulang kali. Diam-diam, ada seutas harap untuk jadi alasan gadis tercantik itu tertawa, pada suatu hari nanti. Dia ingin segera menepis segala harap, tapi sayangnya harapan seperti pemakan segala, tidak kenal kondisi dan tidak mau bernegosiasi.
Keramaian pesta belum sampai puncaknya, meskipun Ryujin naik ke panggung bersama tiga anak band-nya dan membuat siswi perempuan dimabuk pesonanya. Wina tersenyum, saingannya terlihat keren dengan membawakan Creep milik Radiohead. Lagu yang lebih tepat untuk dinyanyikannya. Atau Ryujin memainkan lagu itu untuk mengejeknya? Entahlah. Intinya sejak memakai frasa ‘saingan’, Wina langsung mengaku kalah.
Tidak perlu waktu lama, mata Wina langsung menemukan apa yang dicarinya, Karina. Dari kejauhan, dia bisa memastikan pemilik pesta sedang berbagi tatap dengan si vokalis. Kali ini tidak lagi tersenyum, tapi tanpa tanggung-tanggung Wina tertawa lirih. Kadangkala lucu dan sendu memang hanya berbeda tipis ya, Win?