#D-Day!
Hari ini akhirnya tiba. Wina tidak bisa menjauh dari keramaian dan rasanya memang tidak perlu. Persiapan pentas seni membuatnya cukup dekat dengan teman-teman angkatannya. Ada banyak waktu dihabiskan bersama, tolong beri selamat untuk Wina!
Murid-murid tingkat akhir mulai bergiliran menunjukkan bakat seninya. Mereka berusaha tampil paling maksimal untuk mendapat A di nilai kesenian. Ada yang membacakan puisi, membentuk kelompok drama musikal, menari tradisional dan modern, serta menyanyikan lagu. Ningning dengan suara jernihnya layak mendapat nilai A. Sementara Giselle, pacarnya, berhasil menjadi idola baru setelah membawakan lagu hiphop bersama siswa laki-laki lainnya.
Yang selalu cantik, Karina, menunjukkan kemampuan menarinya. Dan siapa yang tidak jatuh cinta? Wina tidak berhenti menaruh kekaguman. Karina selalu cantik, tapi kala dia menari seperti ini, kecantikan dan pesonanya berlapis-lapis. Berapa lapis?
“Semangat, Win. Habis ini, kamu.” Ningning menyemangati Wina yang sebentar lagi tampil membawa gitarnya.
Wina menaiki panggung dengan gugup. Tangannya basah oleh keringat, ada banyak pasang mata kini tertuju padanya. Tapi dia tidak boleh menghancurkan ini, Wina mulai menutup matanya sejenak. Pelan-pelan, dia membebaskan dirinya melalui petikan gitar. Sebuah lagu yang benar-benar dari hatinya.
Saat kupejamkan kedua mataku dan kubayangkan di sampingmu, Kurasakan selalu, hangatnya pelukmu. Itu. Dan kugenggam lembut kedua tanganmu, seakan takut kehilanganmu, Kuingin selalu, hatimu untukku..
Matanya terlalu mudah menemukan apa yang dicarinya: Karina. Dan gadis itu sedang menatapnya. Wina tidak goyah, dia tetap melantunkan lagu milik Andra & The Backbone ini sembari matanya mengunci pandang.
“Tak ada yang bisa menggantikan dirimu. Tak ada yang bisa membuat diriku, jauh darimu.” Wina masih meneruskan lagunya. Dia merasa sedang bermimpi, bernyanyi untuk Karina dan gadis itu tersenyum. Jika saja dilihat dari dekat, mungkin pipi Karina merona karena lirik manis dan kelembutan suara Wina.
Wina akhirnya menyelesaikan lagunya. Penonton berebut tepuk tangan paling keras, nilai A sudah pasti didapatnya dan diantara kebahagiaan ini, ada Karina yang menatapnya bangga. Dan hanya karena mereka saling berbagi tatap lantas Karina tersenyum, rasanya Wina ingin hidup seribu tahun lagi.
—
Penampilan band selalu mendapat urutan pertama dan terakhir. Entah apa alasannya, tapi seperti sudah tradisi saja. Vokalis Ryujin bersama band-nya mendapat giliran terakhir untuk bermain. Momen ini seperti pas untuk melancarkan rencana Ryujin. Apalagi kalo bukan.... Isilah sendiri titik-titik berikut.
“Halo, semua! Hari ini kita udah seru-seruan bareng. Tapi tunggu, jangan pada bubar dulu.”
Penonton bersorak, “Siapa yang bakal bubar kalo ada Ryujin?”
Si vokalis lagi-lagi tersenyum dan membuat siswi menggila. Masih menjadi misteri, kenapa pesona anak band ini agak-agak tidak terkendali.
“Satu lagu teristimewa buat seseorang yang bikin pencarianku berakhir. Kalo kalian tau, ya dia orangnya.”
Penonton diam sejenak, lagu mulai dimainkan. Suara Ryujin melebur pada bait demi bait. Dia secara jelas bernyanyi untuk seseorang, matanya tidak bisa lepas. Dan penonton sudah lebih dari mengerti.
Wina memasuki kelas yang kosong sendirian. Dia membenamkan kepalanya yang terasa berat ke meja kayu. Tidak, dia tidak boleh menangis sekarang. Tapi.. Dia terlalu cengeng untuk tidak menangis. Dadanya terasa sesak mendengar lagu yang ditulisnya dengan derai air mata. Lagu yang menceritakan kekaguman tiada akhir pada perempuan yang tidak lain Karina.
Di penghujung lagu, Ryujin tidak buru-buru menyelesaikan bait akhirnya. Dia memberi isyarat untuk personil band lain memelankan musiknya, lalu dia berhenti bernyanyi.
“Karina, lo tau kan. Gue nggak terlalu pinter ngomong, tapi lagu ini kayanya udah jelasin semua. Iya, gue suka, sayang, cinta banget sama lo. Rasanya, setelah ketemu lo, gue udah nggak mau cari lainnya lagi. Lo boleh percaya atau nggak. Oh iya, gue tau, bakal malu banget kalo ditolak dan kayanya gue bakal dihukum deh abis ini. Tapi Rin, lo mesti jujur buat jawab ini. Lo.. mau nggak, jadi pacar gue?”
Mustahil ini tidak didengar Wina, meskipun dia kini mengasingkan diri. Belum lagi riuh penonton yang siap menyambut pasangan paling populer di sekolah ini. Guru-guru tampak geleng-geleng kepala melihat kelakuan muridnya, tapi enggan merusak acara. Kini semua mata tertuju pada Karina, menunggu ada satu balas yang membuat orang semakin bersorak.
Hening sejenak sebelum Karina akhirnya... mengangguk.
“YEY!!” Penonton berseru ikutan senang.
“Rin, I love you.” Ryujin bersiap menyambung lagi bait akhirnya.
Apa kabar Wina? Jangankan seribu tahun lagi, dia hanya ingin bisa bernafas tanpa sesak besok harinya.